Misael Bright Manurung

Misael Bright Manurung

Di umurnya yang belum mencapai tiga tahun, Misael sudah bisa membaca dan menulis beberapa tulisan. Keistimewaan itu membuat Misael masuk rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai bayi termuda yang bisa membaca.

Penghargaan MURI itu diserahkan pada Misael yang didampingi kedua orangtuanya, David Victor dan Giovanni Paramtya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (17/3/2018). Menurut perwakilan MURI, di saat mereka mencatat rekor yang dibuat Misael belum ada yang mengklaim bisa melakukan hal serupa oleh balita lain yang usianya lebih muda dari Misael.

Setidaknya rekor tersebut masih berhak dipegang oleh Misael sebelum ada yang terbukti bisa memecahkan rekornya. Yang jelas, sebelum menetapkan rekor, mereka meminta masukan dan pertimbangan dari berbagai pihak termasuk pakar balita dan pendidikan anak.

Kedua orangtua Misael mengaku kemampuan anak mereka diperoleh secara alami dan tak pernah dipaksakan untuk belajar secara intens, apalagi mereka tak punya banyak waktu luang karena sama-sama bekerja.

”Mungkin karena kami mengajarkan Misael sambil mengajaknya bermain, jadi dia merasa enjoy dan bisa secara alami. Sebenarnya dia juga bisa hapal banyak lagu, tapi yang fokus kami masukkan ke rekor MURI ini ya untuk membaca dan menulis,” terang orangtua Misael.

Selain Baca Tulis, Misael Bisa Berhitung Dalam Bahasa Inggris.

Kecerdasan bocah yang usiany belum genap tiga tahun dirasakan oleh kedua orangtuanya. Selain baca tulis, rupanya Misael juga bisa berhitung dalam bahasa Inggris dari angka 1 hingga 100. Ibu Msael juga mengatakan tak ada yang istimewa saat ia hamil Misael termasuk soal makanan.

Hanya saja Misael lahir sedikit lebih cepat saat usia kandungannya sekitar 8 bulan. Kemampuan istimewa Misael bisa kita saksikan di program talkshow yang dipandu Deddy Corbuzier di sebuah stasiun TV swasta, beberapa pekan lalu.

Kedua orangtua Misael sempat khawatir anak mereka akan grogi tampil di depan kamera, bahkan Deddy juga mengaku khawatir tak akan berjalan lancar. “Untungnya mood Misael waktu itu lagi bagus, jadi semua berjalan lancar, ternyata dia nggak grogi ditonton banyak orang dan banyak kamera, apalagi acaraya live,” ujar David. Misael ternyata sadar kamera dan bukan tidak mungkin punya bakat di bidang akting.

Sejauh ini Misael sudah menerima beberapa tawaran untuk jadi bintang iklan dan bahkan sinetron. Namun orangtua Misael belum terburu-buru membuat keputusan. Mereka juga belum berencana memasukkan Misael ke sekolah karena ingin semuanya berjalan secara alami.

Karena kepintaran Misael tersebut membuat balita yang usianya baru dua tahun tersebut jadi viral. 

Telling

Setiap anak memiliki kemampuan spesial. Mereka akan mampu tumbuh dan berkembang dengan baik tergantung lingkungan tempat tinggal. Mereka akan nyaman dengan kondisi yang menyenangkan dan sebaliknya akan merasa tertekan dengan kondisi menakutkan. Tentu menyenangkan dan menakutkan bagi anak berbeda dengan pandangan orang dewasa. Anak-anak cenderung menilai hal seragam dari hal yang sama tanpa melihat proses dan latar belakang dari suatu peristiwa yang terjadi.

“ketika anak berinteraksi dengan banyak orang dan bersentuhan dengan berbagai sudut pandang mereka mulai membuat ide bahwa hanya ada standar tunggal dan absolut dari benar atau salah dan mulai mengembangkan perasaan keadilan yang didasarkan kepada keadilan atau perlakuan yang sama untuk semua” (Diane E: 2008).

Anak-anak juga biasaya dituntut untuk berprestasi. Sehingga para orangtua pun mewajibkan anaknya untuk belajar di tempat yang dapat membuat anak mereka mendapatkan hal-hal positif dari tempat yang akan dijadikan sarana dalam membangun dan mengembangkan wawasan anak-anaknya. Akan tetapi kebanyakan dari anak-anak mereka bersemangat tetapi juga diliputi rasa khawatir saat pertama kali masuk pada lingkungan yang baru. Seperti halnya pada saat pertama kali mereka masuk sekolah.

Semua pesan-pesan yang disampaikan mulai dari keluarga, tetangga dan teman-temannya akan mempengaruhi sikap meraka di lingkungan baru tersebut, yaitu sekolah. Sebagian orangtua mungkin akan mendorong anaknya untuk berprilaku baik dan harus mendapatkan prestasi yang luar biasa. Mungkin sebagian orangtua yang lainnya membiarkan anaknya belajar dengan baik di sekolah tanpa harus menuntut sang anak untuk berprestasi.

Akan tetapi, rata-rata orangtua pasti menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang hebat. Mereka ingin anak-anaknya menjadi orang yang lebih baik dari mereka. Padahal anak yang hebat tidak lahir dari sekolah, karena sekolah hanya sebagai sarana atau wadah yang membantu tugas orangtua dalam hal pendidikan formal yang berlaku umum.

Tetap saja anak yang hebat lahir dari keluarga yang peduli dalam mengasuh anak-anak mereka, karena keluargalah yang paling utama dalam membentuk karakter anak untuk menjadi hebat dan membanggakan. Sikhah, Guru Taman Kanak Kanak Pertiwi Bobosan Purwokerto Utara Banyumas menyebutkan bahwa untuk menerapkan kepribadian yang dapat memberikan nilai positif dalam perkembangan anak adalah dengan melakukan sikap disiplin, dimana hal yang paling penting dalam mengenalkan disiplin pada anak adalah teladan orangtua (Sikhah:2018).

Jadi, sikap orangtua akan membentuk karakter anak. Teladan orangtua akan mudah diikuti oleh sang anak. Jika mereka peduli dengan perkembangannya, ia akan menunjukannya dengan baik dan sepenuh hati. Akan tetapi jika orangtua yang tidak sabar dalam mendidik anak-anaknya akan mengalami kendala dalam membentuk pribadi dan karakternya. Orangtua harus sungguh-sungguh dalam membimbing dan mendidik anak-anak mereka agar senantiasa sang anak dapat tumbuh menjadi anak yang hebat dan membanggakan.

Jika kita masih ingat diakhir tahun 2009, anak yang hebat mencuat ke permukaan karena prestasinya yang luar biasa. Padahal pada saat itu ia belum bersekolah. Mohammad Iqton Alexander peraih rekor MURI sebagai pembaca peta Dunia termuda, hafal Bendera dan Ibukota negara terbanyak. Sebelumnya ia juga dapat membaca tulisan latin saat usianya 2,5 tahun, dapat berhitung saat usia 3 tahun, dan mampu membaca tulisan Al-Qur’an diusia 4 tahun. Selain Iqton, pada tahun 2017 lalu Azzam Habibullah yang hanya bersekolah alam yang didirikan orangtuanya yaitu Sekolah Alam Medan Raya (SAMERA) dan juga dididik langsung oleh kedua orangtuanya melalui panduan video tutorial mampu membuatnya menjadi salah seorang pemuda dari empat pemuda seluruh Indonesia yang diundang oleh Caretakers of the Environment International (CEI), sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada isu-isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Azzam diundang untuk mengikuti konferensi tentang pembangunan berkelanjutan, pendidikan dan lingkungan hidup berkat proposalnya yang berjudul ‘Equity dan Population Adjustment’, dimana dalam konferensi itu,ia mempresentasikan dalam Bahasa Inggris selama sekitar 10 menit dihadapan para profesor dan ahli lingkungan. (Yanuar Jatnika: 2018)

Jadi untuk bisa membuat anak menjadi hebat haruslah dimulai dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Keluarga akan menjadi pembelajaran utuh untuk kemudian dibawa keluar sebagai cerminan sikap sang anak kelak. Apalagi saat ini dunia sudah canggih, informasi sangat mudah diraih. Para orangtua pun telah melek informasi saat ini. Sebut saja orangtua dari AzzamHabibullah, yaitu Bapak Henry Ridho dan Ibu Laila Sari yang memberikan dedikasi penuh terhadap anaknya melalui pemikiran bahwa cara terbaik mengoptimalkan potensi anak adalah dengan membiarkan anak mengeksloprasi segala hal di lingkungan sekitarnya. Harapannya, saat mencapai akil baligh pada usia sekitar 12-14 tahun, anak menemukan bakat dan potensinya. Bila sudah ketemu, maka orangtua tinggal mendukung dan memfasilitasinya agar potensi anak bisa tumbuh dan berkembang.“Menurut kami, hal itu bisa dilakukan bila dididik langsung oleh orangtuanya yang lebih tahu karakter si anak sehingga tahu cara mengarahkannya, “lanjutnya.(YanuarJatnika:2018)

idak jarang anak-anak yang pada dasarnya memiliki rasa keingintahuan tinggi harus menerima jawaban asal orangtua karena seringnya mereka bertanya hal-hal yang membuat mereka penasaran dan ingin tau jawabannya. Akan tetapi orangtua yang lebih mementingkan masalah pribadinya dan hanya fokus terhadap waktunya agar tidak sia-sia berpikir bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak-anak mereka hanya sekedar pertanyaan-pertanyaan yang konyol bagi mereka dan tak seharusnya anak-anak bertanya seperti itu di usia mereka yang belum sepenuhnya mengerti. Akibat orangtua yang enggan memberikan informasi yang sebenarnya, anak-anak tersebut malah mencari tau sendiri jawabannya melalui media elektronik. Seperti yang diketahui bahwa media elektronik saat ini masih perlu ditelusuri kebenarannya, sebut saja internet. Jadi, jika kita sebagai orangtua enggan untuk mendampingi anak-anak, bukan tidak mungkin ia akan terbawa pada informasi yang mengarah pada hal negatif.

Perlu diingat bahwa anak-anak belum sepenuhnya mengerti tentang hal-hal yang benar ataupun salah. Mereka cenderung melakukan hal-hal yang mereka senangi ataupun mencari tau hal baru dengan berbagai percobaan dari mereka sendiri. Kita sebagai orang yang lebih dewasa tinggal memperhatikan dan mengawasi tindakan mereka, agar sebisa mungkin mengarah pada hal positif yang mampu mengembangkkan mereka menjadi anak yang hebat.

Akses informasi yang kian mudah saat ini harusnya menjadi wadah ringan yang bisa dilakukan orangtua dalam membimbing anak-anak mereka.Dua puluh empat jam bisa dikontrol dan diawasi dengan media yang ada saat ini. Tidak perlu lagi sang anak diikutkan dengan berbagai kegiatan les tambahan, karena sekarang telah mudahnya tutorial yang di dapat melalui situs-situs informasi yang ada. Kini para orangtua tinggal duduk manis mendampingi sang anak dalam menemukan hal baru yang disukainya.

Komunikasi pun harus tetap terjalin demi kelancaran informasi antara anak dan orangtua. Hal yang baik akan tercipta dengan adanya saling keterbukaan antara kedua belah pihak. Anak yang cenderung masih ingin diperhatikan harus diberi kasih sayang agar anak tersebut menjadi pribadi yang baik. Ingat, anak yang keras lahir dari didikan orangtua yang keras, sebaliknya anak yang hebat lahir dari orangtua yang peduli seratus persen terhadap perkembangan anaknya.